This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 04 Mei 2011

Kisah Pohon Apel dan Seorang Anak Kecil

Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Kutipan : by Arief Rahman

Membedah Rasa Sakit Seorang Jomblo Part II


sebelum membeberkan semuanya, pastikan Anda sudah membaca bagian pertama yang ditulis oleh Lex beberapa waktu yang lalu. 


Sudah? 


Oke, kita akan mulai dengan mengajak Anda mengingat semua pengalaman Anda selama ini, yang selalu gagal dalam urusan romansa. Penolakan demi penolakan Anda alami, dan meskipun ternyata Anda cukup beruntung hingga akhirnya berhasil mendapatkan pacar beberapa kali, namun semua berakhir singkat dengan cara yang tragis dan menyedihkan. 


Patah hati, sakit hati, pilu, pedih, perih, sedih, miris, kesepian, merasa tidak diinginkan, merasa menjadi korban kejamnya dunia dan semua emosi negatif lainnya menjadi bagian dari realita Anda. Ditambah dengan penyakit ngarep, romantic junkie, approval junkie dan penyakit-penyakit romansa kronis lainnya, Anda menjadi sosok yang sangat melankolis dan penuh kepahitan. 


Anda tenggelam dalam lagu-lagu cengeng dan mellow, film-film lokal dan Asia yang penuh dengan air mata dan momen-momen nan ngarep menjadi konsumsi sehari-hari Anda. Semuanya itu seolah-oleh semakin mengkonfirmasi apa yang Anda rasakan selama ini, “Tuh kan bener, dunia ini gak adil.” 


Dan Anda menarik diri dari lingkungan sosial Anda. Dari keluarga, kuliah, atau kantor. Anda menjadi seorang penyendiri, dan Anda memberikan alasan yang kuat pada diri Anda sendiri untuk menjadi seperti itu, “This is what I am! I'm a loner. No body understands what I feel.” 


Atau apabila Anda memiliki banyak teman yang senasib sepenanggungan, yang Anda lakukan adalah menghabiskan waktu untuk mengeluh, meraung dan meratapi nasib romansa Anda yang rasanya makin lama makin kelam. 


Anda membiarkan diri Anda tenggelam dalam lautan emosi yang begitu kelam dan menyedihkan.


Saya mengerti rasanya, karena saya juga pernah berada di situ dan mengalami hal yang sama. Bukan hanya saya, tapi Jet, dan Lex pun berasal dari tempat yang sama. We know how it feels. We feel you, bro. 


Tidak ada yang menyalahkan Anda kalau Anda sedih dan sakit hati. Anda berhak untuk merasakan semua hal itu. Apabila sesuatu yang menyakitkan terjadi pada diri seseorang, tentu respon yang normal adalah merasakan rasa sakit. 


Tapi masalahnya, apabila Anda terus larut dan terpuruk dalam keadaan itu, dan membiarkan diri Anda terus merasakan emosi-emosi tersebut, tanpa Anda sadari Anda membuat diri Anda kecanduan. 


Saya bisa mendengar Anda bertanya, “Hah? Kecanduan? Kecanduan apa?” 


Kecanduan rasa sakit. 


Rasa sakit, pedih, sedih, miris, pilu, senang, bahagia, berbunga-bunga, marah, kesal, jatuh cinta dan sebagainya yang Anda rasakan, itu semuanya adalah emosi. Emosi adalah proses fisiologi yang terjadi di dalam tubuh yang timbul ketika Anda mendapat stimulasi-stimulasi tertentu. Dan emosi memiliki pengaruh yang sangat kuat pada tubuh dan otak Anda. Begitu kuat sehingga apabila Anda membiarkan diri Anda larut dalam emosi, Anda akan kehilangan akal sehat Anda. 


Semakin sering Anda merasakan gejolak emosi yang sama, maka makin mudah bagi Anda untuk memicu emosi tersebut. Semakin sering Anda mengakses emosi yang sama terus menerus, maka itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan tanpa Anda sadari Anda sudah kecanduan. 


Ketika Anda merasakan rasa sakit hati, sedih, dan pilu terus menerus, maka Anda telah membiasakan diri Anda untuk merasakan hal-hal tersebut. Semakin sering Anda merasakan pedih, miris dan kesepian, maka akan semakin mudah bagi Anda untuk memicu emosi tersebut. Tidak perlu seorang wanita datang dan menolak Anda, Anda cukup melihat sosok wanita yang mirip dengan si dia saja dan Anda akan langsung merasakan semua rasa sakit hati Anda. Lagi dan lagi. 


Tapi saya yakin Anda ingin protes kepada saya saat ini, “Gue gak kecanduan rasa sakit kok! Justru gue gak pengen sakit hati lagi!” 


Ya, logika Anda memang berpikir seperti itu, karena akal sehat Anda tahu bahwa rasa sakit hati itu adalah sesuatu yang negatif dan merusak. Namun apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tidak selalu sejalan, saya rasa Anda juga mengerti, kan? 


Anda pasti mengenal seseorang yang terkenal sebagai seorang pemarah berat. Sebenarnya pemarah bukanlah sifat ataupun karakter bawaan, tapi hanyalah sebuah kebiasaan. Dengan kata lain, si pemarah kecanduan rasa marahnya sendiri. Dia mungkin menyadari kalau kebiasaannya marah-marah itu adalah sebuah kebiasaan buruk. Tapi, baik disadari maupun tidak, seorang pemarah merasakan suatu kenikmatan tersendiri setiap kali dia mengerahkan amarahnya secara lepas. 


Hal yang sama dapat terjadi pada semua orang dengan jenis kasus yang berbeda. Ganti saja kata 'amarah' dengan kata lainnya. Seorang yang kecanduan 'cinta', misalnya, sangat menikmati perasaan 'sedang jatuh cinta'. Rasa berbunga-bunga dan getar-getar yang dia rasakan ketika bertemu dengan lawan jenis baru yang menarik hatinya, sehingga membuat dia sering bergonta-ganti pasangan. Dia jatuh cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri. Kecanduan. 


Hal yang sama terjadi pada Anda. 


Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa pilu yang meresap ketika Anda mendengarkan lagu D'Masiv, Cinta Ini Membunuhku, berulang-ulang kali? 


Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa miris yang menyayat hati ketika Anda menonton drama percintaan, di mana sang pria menunggu semalaman dibawah hujan deras dan membawa kue kesukaan sang wanita hanya untuk melihat sang wanita berpelukan mesra dengan pria lain?


Kalau Anda tidak kecanduan rasa sakit, lalu mengapa Anda sangat menikmati rasa kesepian yang melanda setiap malam, ketika Anda mengingat-ingat semua detil kejadian yang menyakitkan saat si dia sepertinya memberi harapan lalu akhirnya menolak dan menjauhi Anda?


Anda sudah kecanduan. 


Tapi Anda tidak menyadarinya, dan ini yang membuat keadaan Anda semakin parah..


Bagi Anda yang baru mendengar tentang semua ini sekarang, mungkin hal ini kedengarannya absurd. tapi kecanduan emosi tertentu adalah realita yang terjadi pada setiap orang. Setiap orang memiliki kecanduannya sendiri. 


Semakin cepat Anda menerima dan mengakui keadaan Anda, semakin cepat Anda dapat mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Karena hal ini akan sangat merusak hidup Anda apabila Anda tidak menyadarinya dan melakukan sesuatu. Rasa kecanduan itu akan mensabotase setiap hubungan Anda dengan orang lain, apalagi dengan wanita dalam dunia romansa. Karena apapun respon si wanita terhadap Anda, Anda akan selalu mencari rasa sakit tersebut. 


Apabila si wanita memberi respon positif dan semuanya tampak berjalan lancar, Anda akan bertanya-tanya dalam hati Anda, “Kok bisa selancar ini? This is too good to be true. Gak mungkin dia suka sama gue semudah ini.” Anda merasa diri Anda tidak layak untuk mendapatkan hubungan yang lancar dan indah dengan wanita. Dan Anda mulai mencari bukti-buktinya. 


Ketika si dia tidak membalas sms Anda, atau menolak ajakan Anda, pergi hang out dengan pria lain, dan segala macam tindakan kecil lainnya, Anda akan menganggap ini sebagai konfirmasi dari perasaan negatif Anda. “Tuh kan, memang dia gak suka sama gue. Ah gue emang loser. Gak mungkin lah dia suka sama gue. Kenapa gue selalu mengalami hal seperti ini sih?” 


Anda terjebak dalam rasa ngarep dan self-pity. Kalau sudah begini, hasilnya akan sesuai dengan prediksi Anda. Si dia menolak dan menjauhi Anda. Jelas saja, siapa sih yang ingin bersama dengan orang yang selalu mengasihani diri sendiri dan menyedihkan seperti itu? 


Saya tahu penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. Sama seperti orang yang kecanduan rokok, alkohol atau obat-obatan, sangat susah untuk menghentikan kebiasaan yang Anda nikmati. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. 


Pertama, Anda harus mengambil keputusan untuk mengatasi kecanduan Anda. Berjanjilah pada diri Anda sendiri. 


Kedua, Anda harus menghindar jauh-jauh dari semua sumber kecanduan Anda. Lagu-lagu cengeng, film-film percintaan, dan pikiran-pikiran negatif yang kerap kali menganggu Anda. 


Ketiga, Anda harus merubah kebiasaan Anda yang selalu mellow itu. Pergilah bersenang-senang dengan teman-teman Anda, dan lupakan semua memori buruk yang pernah Anda alami. Jangan pernah Anda ingat-ingat lagi. Dan tentu saja, praktekkan dan install semua paradigma dan pola pikir yang sudah Anda pelajari lewat Hitman System. 


Perlahan namun pasti, apabila Anda terus melakukan ketiga hal itu, saya jamin Anda pasti akan merasakan perubahan yang signifikan. Hidup Anda akan terasa lebih cerah dan berhubungan dengan wanita tidak lagi menjadi sebuah hal yang menimbulkan rasa sakit dan pilu. 


Hentikan kecanduan Anda sekarang juga! 




Sahabat Anda, Kei Savourie
Kutipan ; Hitmansystem.com

Selasa, 03 Mei 2011

Mengetahui karakter seseorang berdasarkan golongan darah

Manusia mempunyai hal unik yang berbeda-beda. Namun pada kenyataanya beberapa watak manusia mempunyai kesamaan. hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa alasan. Dari dulu kita mengenal shio, zodiak, ataupun aura tubuh untuk mengetahui lebih jauh watak seseorang. Tapi ternyata bukan hanya itu, golongan darah ternyata ikut andil bagian dalam mempengaruhi sebagian watak seseorang. Mau tau seperti apa? yuk kita simak...

1. Karakter Orang Bergolongan Darah B

Orang dengan golongan darah B mer
upakan orang yang paling praktis di antara semua golongan darah yang ada. Mereka adalah spesialis di bidang yang digelutinya. Ketika mereka memulai sebuah proyek, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memahami dan mencoba mengikuti semua petunjuk/arahan yang diperlukan untuk itu. Jika mengerjakan sesuatu, mereka selalu fokus kepada apa yang teng
ah dikerjakan. Mereka cenderung berpedoman pada tujuan dan mengejarnya sampai tuntas walau pun kelihatannya pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan. Mereka cenderung kurang kooperatif. Mereka lebih suka mengikuti peraturan dan gagasan mereka sendiri. Orang dengan golongan darah B memberikan perhatian lebih kepada pikiran daripada perasaan mereka, dan karenanya, terkadang kelihatannya dingin dan serius.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah B

Ada karakter ada gaya. Orang bergolongan darah B memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergolongan darah A. Me
reka lebih praktis, egois, kreatif, optimis dan bebas dalam berpikir. Mereka juga memiliki kecenderungan mengerjakan segala sesuatu secara individual. Oleh karena itu, di Jepang, untuk membentuk sebuah tim yang kuat sehingga motto yang digagas John C. Maxwell: teamwork makes the dream work benar-benar menjadi kenyataan, orang golongan darah B ini biasanya kurang dilibatkan.

Untuk lebih jelas, gaya komunikasi dengan
orang bergolongan darah B berikut dapat dijadikan pedoman:

" Mulailah pembicaraan dengan runtun, jangan melompat-lompat karena mereka kurang menyukai hal-hal yang tidak teratur.

" Jangan memulai pembicaraan tanpa mengakhirinya.

" Gunakan data-data akurat, bukan rekaan.

" Jika mengajak kerjasama, pastikan bahwa mereka bersedia.

" Berbicaralah kepada otaknya bukan hatinya. Gunakan lebih banyak fakta rasional daripada sosial.

" Jangan menggunakan gaya bicara yang terburu-buru.

Orang dengan golongan darah B lebih suka mendengarkan uraian rinci dan runtun. Mereka suka ada awal dan akhir dari sebuah percakapan. Karena mereka sangat concern dengan apa yang t
elah dimulai untuk dapat diakhiri. Mereka tidak suka orang yang berbicara secara tidak jelas dan tanpa pertimbangan rasional karena mereka lebih menggunakan nalar rasio-nya daripada perasaannya.

2. Karakter Orang Bergolongan Darah 'O'

Orang-orang dengan golongan darah O a
dalah mereka yang tidak banyak ambil pusing, penuh semangat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka adalah orang yang paling fleksibel di antara semua golongan darah yang ada. Mereka akan dengan cepat memulai sebuah proyek namun mengalami masalah ketika melanjutkannya dan tidak jarang banyak juga yang dengan mudah menyerah di tengah jalan. Mereka terkadang bertingkah dan tidak terlalu dapat dijadikan sandaran. Mereka selalu mengatakan apa yang ada di pikiran mereka secara langsung. Mereka selalu jujur. Mereka menghargai pendapat orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. Selain itu, orang-orang bergolongan darah O ini memiliki rasa percaya diri yang sungguh kuat. Di Jepang, golongan darah ini merupakan golongan darah rata-rata orang disana.

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah O

Ketika berhadapan dengan orang bergolongan darah O yang penuh semangat dan percaya diri, terus terang, optimistis, terkadang egois dan kreatif, hal-hal berikut dapat dijadikan pedoman:

* Berbicaralah dengan semangat dan penuh vitalitas. Karena mereka kurang menyukai orang-orang yang terkesan lemah, letih, lesu, lemas, letoy, dan loyo yang dianggap tidak dapat mengikuti ritme mereka yang penuh dengan energi.
* Jangan gunakan kata-kata negatif dan pesimis karena kelompok kata itu tidak terdapat dalam kamus mereka yang penuh dengan semangat positif dan optimis.
* Ketika mengikat sebuah kontrak, pastikan dengan tegas bahwa mereka komit dengan apa yang telah disepakati dan dapat bertanggung jawab atas penyelesaiannya.
* Berkatalah dengan jujur karena mereka juga demikian adanya. Sekali kebohongan terdeteksi, mereka tidak akan percaya lagi pada lain kesempatan.
* Tunjukkan bahasa tubuh yang penuh keceriaan dan semangat.

Orang dengan golongan darah O paling suka berkomunikasi dengan mereka yang penuh semangat. Orang-orang yang tidak memiliki semangat hidup yang baik sulit menjadi teman dekat orang golongan ini. Karena mereka selalu semangat sejalan dengan vitalitas yang mereka miliki. Mereka akan dapat berkomunikasi berjam-jam dengan orang yang cocok dan dapat mengikuti ritme bicara mereka yang sangat optimistis dan motivatif.

3. Karakter Orang Bergolongan Darah AB

Orang dengan golongan darah AB susah dikelompokkan. Mereka dapat memiliki karakteristik di kedua ujung spektrum pada waktu bersamaan. Artinya, di satu sisi mereka pemalu, di sisi lain, sangat terbuka. Mereka dengan mudah mengubah satu sisi ke sisi yang lain. Mereka dapat dipercaya dan bertanggung jawab, namun tidak dapat bertanggung jawab jika terlalu banyak yang dituntut dari mereka. Mereka tidak keberatan membantu sepanjang sesuai dengan syarat mereka. Orang-orang dengan golongan darah ini sangat suka seni dan metafisika. AB juga dianggap sebagai tipe darah terburuk di Jepang. Mereka juga suka menentukan syarat sendiri dan berhak menggugurkannya jika tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka dikenal sangat sensitif dan penuh perhatian. Di Jepang, beberapa perusahaan membagi karyawan-karyawannya ke dalam kelompok kerja berdasarkan golongan darah, dan ironisnya, tidak seorang pun yang mau bekerjasama dengan kelompok golongan darah AB di Jepang ! (Jangan terlalu sedih buat yang di Indonesia ya).

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah AB

Dengan karakter yang mudah berubah-ubah tergantung kondisi mood tertentu, orang-orang dengan golongan darah AB tentu masih dapat diambil ‘hatinya’ ketika kita berkomunikasi dengan mereka agar mencapai tujuan yang ingin kita raih. Gaya komunikasi yang perlu diterapkan adalah seperti tersebut di bawah ini:

* Pertama-tama, ikuti dulu alur pembicaraan mereka.
* Selanjutnya, berbicaralah secara tegas karena mereka mudah berubah-ubah.
* Bicaralah tentang seni dan metafisika untuk memulai percakapan yang lebih panjang jika hal itu diinginkan.
* Jika membuat janji, pastikan mereka memahaminya dan setuju.
* Jangan ambil keputusan sepihak karena mereka termasuk orang yang suka menentukan sebuah keputusan secara sepihak. Diskusikanlah dengan sinergis.
* Jangan terlalu banyak mengumbar kata dan janji karena mereka sulit mengingat, apa lagi menjalankan kewajiban yang semakin banyak.

Orang dengan golongan darah ini memang sedikit kurang beruntung di Jepang karena dianggap yang paling lemah dan tidak dapat dipercaya. Namun, hal ini tentu sangat kasuistis dan geografis. Hanya saja, dengan memahami karakteristik orang dengan golongan darah ini, banyak hal yang dapat dilakukan untuk tidak menuai kekecewaan nantinya di kemudian hari jika ternyata karakter itu benar adanya. Dan bagi mereka dengan golongan darah AB tentu dapat melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki hal-hal negatif yang benar sesuai dengan penjelasan di atas.

4. Karakter Orang Bergolongan Darah A

Orang dengan golongan darah A memiliki kekuatan karakter yang mengakar kuat yang akan membantu mereka untuk tetap tenang dalam krisis ketika semua orang panik menghadapi situasi serupa. Mereka cenderung menghindari konfrontasi, dan sesungguhnya kurang nyaman berada di antara orang banyak. Mereka biasanya pemalu dan terkadang suka mengasingkan diri. Mereka mencari keharmonisan dan sangat sopan, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar cocok dengan orang lain. Mereka sangat bertanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka lebih suka mengerjakannya sendiri. Orang-orang dengan golongan darah ini selalu mengukir sukses dan sangat perfeksionis. Mereka juga sangat kreatif, dan paling artistik di antara semua golongan darah yang ada karena kesensitifan mereka.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah A

* Jangan mengangkat topik yang konfrontatif, misalnya, topik kontroversial karena mereka orang yang tidak suka membuat konfrontasi dengan lawan bicara.
* Gunakan kata-kata yang relatif sopan karena mereka sangat sensitif dan terkadang konservatif sehingga kata-kata yang tidak sesuai dengan standar kesopanan minimal akan dapat menyinggung mereka.
* Jika menjawab usahakan dengan lengkap dan bermakna karena mereka adalah orang yang sangat sempurna dan kurang menyukai hal yang setengah-setengah.
* Mintalah pandangan dan pendapat mereka karena mereka sangat kreatif untuk hal ini dan dengarkan dengan saksama ketika mereka menjelaskan.
* Jangan melebihi mereka saat menyampaikan sesuatu. Artinya, jangan sampai mereka merasa dilampaui dalam hal kepintaran dan pengalaman, misalnya.
* Hargai mereka dengan memuji seperlunya karena pujian yang berlebihan akan membuat mereka ragu dengan ketulusan si pemuji.

Sebagai tambahan, orang golongan darah A cenderung menyukai topik-topik yang bernuansa damai dan kooperatif. Mereka tidak menyukai topik yang berkaitan dengan sepak terjang atau kepribadian orang lain yang tidak ada parameter jelasnya. Mereka sangat sensitif, dalam arti setiap kata yang diterima oleh akal sehat mereka akan menjadi tolok ukur mereka terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Untuk itu, lebih berhati-hatilah jika berhadapan dengan orang golongan darah A ini karena mereka sesungguhnya adalah pengamat yang luar biasa

KEJANG DEMAM

PENGERTIAN
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( rektal di atas 38 oC ) yang disebabkan oleh proses intrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurogis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada anak umur 6 bulan sampai 4  tahun. Hampir 3 % dari pada anak yang berusia di bawah 5 tahun yang pernah menderita ( Millichap, 1968 ).
Terjadinya bangkitan kejang demam bergantung pada umur, tinggi serta cepatnya suhu meningkat. Faktor hereditas juga mempunyai peranaan.

PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolesme. Bahan baku untuk metabolesme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiuvaskouler.
Dari urainyan trersebut dapat diketahui bahwa sumber otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permjukaan dalam lipolid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalsium ( K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Na+ dan elektrolet lainnya, kecuali ion Cl - . Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsenhtrasi ion Na+ rendah, sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terjadi perbedaan potensial membran dari neuron, untuk menjaga keseimbangan potensial membran sel ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP ase yang terdapat dipermukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstravaskuler.
2. Rangsanganan yang datangnya mendadak misal :  mekanis , kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit / keturunan.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen meningkat 20 %. Pada anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mempunyai 60 % dari seluruh tubuh dibangdingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi  dari ion K+ muatan listrik. Lepasan muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yaitu “ neurotransmitter “ dan terjadi kejang.

MANIFESTASI KLINIK
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu tubuh yang tinggi dan cepat, disebabkan oleh infeksi diluar SSP misal : tonsilitis, OMA, bronkhitis, dll. Serangan kejang biasanya terjadi selama 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik-klonik fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri.  Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak tapi setelah beberapa detik/menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan syaraf.
Dua golongan kejang demam dan kriteria ( Divingstone ) :
1. Kejang demam sederhana ( simple fibrile convulsion ).
2. Epilepsi  yang diprovokkasi oleh demam ( epilepsi treggered of fever ).

Kriterian pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana :
Umur anak ketika kejang 6 bulan – 4 tahun.
Kejang berlangsung hanya sebenntar < 15 menit.
Kejang berifat umum.
Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
Pemeriksaan syaraf sebelum dan sesudah kejang normal.
Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu tubuh mnormal tidak menunjukkan kelainan.
Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak lebih dari 4 kali.
PROGNOSIS
Prognosis baik bila penanggulangan cepat dan tepat tidak akan mennyebabkan kematian. Resiko yang dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor :
Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
Kelainan dalam perkembangan / kelainan syaraf sebelum anak menderita kejang demam.
Kejang yang berlangsung lama / kejang fokal.

Bila terjadi paling sedikit 2 dari 3 faktor maka di kemudian hari akan mengalami kejang tanpa demam sekitar 13 % dibanndingkan bila hanya 1 atau tidak sama sekali faktor tersebut. Serangan kejang tanpa demam hanya 2-3 % saja.

PENATALAKSANAAN
Dalam penanggulangan kejang demam, ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu :
1. Memberantas kejang secepat mungkin.
2. Pengobatan penunjang.
3. Memberikan pengobatan hemat.
4. Mencari dan mengobati penyebab.

Keterangan :
1. Memberantas kejang secepat mungkin.
Bila pasien datang dalam keadaan status konvulsivus, obat pilihan utama adalah diazepam IV.
2. Pengobatan penunjang.
Semua pakaian ketat dibuka.
Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung.
Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu lakukan intubasi / trakeostomi.
Penghisapan lender harus sercara teratur dan berikan oksigen.
3. Memberikan pengobatan hemat.
Daya kerja diazepam sangat singkat,  yaitu 45-60 menit sesudah disunntikkan, oleh karena itu harus diberikan obat anti epileptik dengan daya kerja lebih lama misal : fenobarbital, fenilhidaatoin.
Pengobatan ini dibagi 2 bagian :
Pengobatan profilaksis intermiten.
Untuk mencegah terulangnya kejang kembali. Pasien yang menderita kejang demam sederhana diberikan obat campuran antikonvulsan adan antipiretika yang harus diberikan kepada anak bila menderita demam lagi.
Profilaksis jangka panjang.
Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teraupetik yang stabil dan cukup di dalam darah pasien untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari.
Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah :
Fenobarbital dosis 4-5 mg/kg BB/hari.
Sodium valproat / asam valproat ( epilin, depakene ) dosis 20-30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.
Fenitoin ( dilantin ).
Pemberian anti konvulsi pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti pengobatan epilepsi. Menghentikan pengobatan antikonvunsan kelak harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.
4. Mencari dan mengobati penyebab.
Penyebab dari kejang demam baik  kejang demam sederhana maupun epilepsi yang diprovokasi oleh demam biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan OMA.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN KEJANG DEMAM

A. PENGKAJIAN
1. Indentitas pasien.
2. Keluhan utama.
Anak dalam keadaan suhu tubuh tinggi dan kejang-kejang.
3. Riwayat penyakit sekarang.
Klien menderita penyakit infeksi seperti tonsilitis, OMA, kenaikan suhu tubuh 38-40 oC atau lebih diikuti aktivitas kejang 15 menit berhenti dengan sendirinya. Kemudian timbul lagi jilka suhu tubuh meningkat diatas normal setelah beberapa jam. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reksi apapun sejenak, tapi setelah beberapa detik / menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan syaraf. Selama aktivitas kejang berbentuk tonik-klonik, tonok, fokal, klonik akinetik. Akibat kejang yang terlalu berat klien bisa mengalami truma. Untuk mengurangi keluhan bisa dikompres dingin dan antipiretik atau pemberian antibiotika untuk mengurangi penyakit infeksi jika aktivitas kejang tidak ada. Hal yang memperberat yaitu keadaan peningkatan suhu tubuh itu sendiri dan kurang pengetahuan keluarga.
4. Riwayat penyakit dahulu.
Tanyakan pada keluharga mengenai anggota keluarga yang pernah mengalami kejang sebelumnya, atau pernah menderita penyakit syaraf sebelum dan sesudah mendapat kejang, apakah anak menderita retardasi mental, bagaimana riwayat tumbuh kembangnya.
5. Riwayat penyakit keluarga.
Tanyakan pada keluarga mengenai anggota keluarga yang pernah mengalami kejang, gangguan sistem persyarafan / gangguan mental. Selain itu tanyakan tentang penyakit keturunan, kardiuvaskuler, metabolik, dsb.
6. Riwayat psikososial
Tanyakan pada orang tuanya tentang immunisasi, apakah anak demam setelah diberi immunisasi dan apakah  bila anak demam karena penyakit tetap diberi vaksin immunisasi. Bangaimana pengetahuan keluarga mengenai demam dan kejang serta penanganannya.

B. PEMERIKSAAN  FISIK
1. Inspeksi
Klien tampak kejang, aktkivitas otot tonik-klonik, tonik, klonik, fokal dan akinetik, berlangsung 15 menit, hipertaki.
2. Palpasi
Suhu tubuh 38 oC, palpasi keadaan denyut jantung, nadi, kontraksi otot tonik-klonik, klonik, tonik.
3. Perkusi
Perkusi keadaan perut, dada/paru, biasanya dalam keadaan normal, kecuali ada penyakit penyerta atau penyakit infeksi lainnya.
4. Auskultasi
Denyat jantung tidak teratur, hipotensi arterial.

C. STUDI DIAGNOSTIK
Hasil normal EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal/tidak menunjukkan gejala kelainan. Pemeriksaan darah tergantung penyakit infeksi yang dapat menyebabkan demam. Gas darah arteri perlu jika terjadi distress pernafasan.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman / panas dan nyaman b/d proses infeksi, tindakan perawatan : pemasangan infus, suction dan efek hospitalisasi, dimanifestasikan dengan ; terpasang infus, suction, gelang-gelang pengaman, suhu tubuh meningkat 38 oC, klien gelisah dan tidak kolaboratif.
Tujuan : rasa nyaman dan nyaman terpenuhi/tidak ada gangguan rasa nyaman dan nyaman.
Kriteria   :  klien menunjukkan kolaboratif dengan tindakan keperawatan, suhu tubuh normal ( 36,5-37 oC ).
Intervensi :
Kaji tingkat ketidak nyamanan dan ketidak amanan klien.
Lakukan tindakan keperawtan dengan lemah lembut  dan kasih sayang.
Beri kompres dingin di daerah frontal/axilla secara bertahap.
Lakukan tindakan keperawatan dengan teknik pedeatrik ; mainan/canda.
Beri minum yang cukup.
Kaji / observasi suhu tubuh tiap 2 jam.
Buka baju klien.
Jika terjadi hiperpireksia, lakukan hibernasi dengan kompres alkohol / es dengan obat klopromazin / prometazon..
Buka/lepas gelang-gelang pengaman jika awitan kejang hilang dan klien sadar.
Kolaborasi dalam pemberian antibiotik dan antipiretik

2. Kecemasan orang tua b/d kurang pengetahuan tentang penyakit anaknya, dimanifestasikan ; orang tua selalu menanyakan tentang keadaan anaknya, orang tuanya cemas, meremas-remas tangannya.
Tujuan : kecemasan orang tua berkkurang/tidak ada.
Kriteria : orang tua tidak banyak bertanya tentang keadaan anaknya dan tidak menunjukkan keadaan cemas.
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan orang tua.
Jelaskan pada  orang tuan tentang proses penyakit dan prognosisnya.
Kaji dan indentifikasi koping orang tua terhadap kecemasan.
Beri wakktu orang tua untuk mengaekspresikan perasaannya.
Beri penjelasan pada orang tua tentang pencegahan dan penanganan bila terjadi kejang demam

3. Resiku terjadi truma b/d aktivitas kejang, dimanifestasikan : klien kejang, otot tonik-klonik.
Tujuan : tidak terjadi truma.
Kriteria : kejang berkurang/hilang, aktivitas otot tonik-klonik berkurang/ hilang.
Intervensi :
Baringkan klien di tempat yang rata dan aman.
Pasang sulit lidahdan gudel.
Beri gelang-gelang pengaman/pagal di pinggir  tempat tidur.
Anjurkan klien untuk mendampingi klien setiap waktu.
Hindari benda-benda berbahaya dan tajam di sekitatr klien.
Kolaborasi dalam pemberian antikonvulsan.

4. Resiko terjadi kerusakan sel otak b/d aktivitas kejang, peningkatan permebilitas kapiler, peningkatan metabolesme otak, kontriksi pembuluh darah dan asidosis laktat, dimanifestasikan : anoxia, suhu tubuh meningkat 38oC, tachipnea, hipotensi arterial, denyut jantung ereguler, kejang berlangsung lama 15 menit.
Tujuan : kerusakan sel otak tidak terjadi.
Kriteria : suhu tubuh normal (36,5-37oC ), eupnea, nadi reguler  100 kali/menit, kejang berkurang / hilang, tonik-klonik otot berkurang/hilang.
Intervensi :
Observasi tanda vital tiap 2 jam.
Baringkan klien di tempat yang datar.
Lakukan suction dan miringkan kepala klien.
Beri oksigen sesuai pesanan.
Bari terapi IV dengan kadar Na yang tidak terlalu tinggi.
Kolaborasi dalam pemberian kortikosteroid/glukokortikoid.
Kolaborasi dalam pemberian antikonvulsan seperti diazepam/fenobarbital.
Bila kejang tidak dapat dihentikan dengan obat-obatan maka sebaiknya klien segera dirujuk ke ICU.
Kolaborasi dengan radiologi dalam pemeriksaan EEG.
5. Resti terjadi distress pernafasan ; apnea b/d kontriksi pembuluh darh otak terhadap sistem syaraf pernafasan, aktivitas kejang yang berlebihan/berat, dimanifestasikan : tachipnea, kejang yang berlebihan/berat, anoxia.
Tujuan : distress pernafasan tidak terjadi.
Kriteria : eupnea (18-22 kali/menit), kejang berkurang/hilang, anoxia jaringan  tidak ada.
Intervensi :
Observasi tanda vital tiap 2 jam.
Barkingkan klien di tempat yang datar.
Lakukan suction dan miringkan kepala klien.
Buka pengikat pakaiyan ( ikat pinggang ) klien.
Beri oksigen sesuai pesanan.
Kolaborasi dalam pemberian kortikosteroid / glukokortikoid (dexamethason).
Kolaborasi dalam pemberian antikonvulsan seperti diazepam/fenobarbital.

PENYULUHAN
Penyuluhan kesehatan yang perlu diberikan kepada klien dan keluarga :
1. Harus selalu tersedia obat penujrun panas atas resep dokter yang mengandung antikonvulsan.
2. Anak harus segera diberi obat antiperetik bila orang tua mengetahui anak mulai kejang ( jangan menunggu suhu meningkat lagi ), pemberian obat diteruskan sampai suhu sudah turun selama 24 jam berikutnya. Jika masih demam bawa segera ke dokter/puskesmas.
3. Bila terjadi kejang, baringkan anak ditempat yang rata, kepala dimiringkan. Buka bajunya dan pasang gagang sendok yang telah dibungkus dengan kain/ sapu tangan yang bersih di dalam mulutnya (jelaskan apa tujuannya). Setelah kejang berhenti, paien sudah bangun dan sadar kembali suruh minum obatnya dan tunggu sampai keadaan betul-betul tenang. Jika suhu pada waktu kejang tinggi sekali supaya dikompres dingin, agar lebih efektif anjurkan supaya dicampur dengan es, paien diberi banyak minum.
4. Apabila terjadi kejang berulang / kejang terlalu lama walaupun sudah diberikan obat, segera bawa klien ke RS karena hanya dokter yang mampu memberikan  pertolongan pada pasien yang menderita status konvulsivus.
5. Beri tahukan orang tua jika anak akan memperoleh immunisasi agar memberitahukan pada dokter /petugas bahwa anaknya menderita kejang demam (agar tidak diberikan pertusis).
6. Walaupun tidak terjadi lagi (sudah lama tidak kambuh lagi) supaya orang tua tidak menghentikan terapi sendiri. Jelaskan bahwa pengobatan ini berlangsung 3 tahun, kemudian secara bertahap dosis dikurangi dalam waktu 3 atau 6 bulan.


DAFTAR PUSTAKA
Gilbert, patricia; 1986; Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Anak-Anak; alih bahasa; dr. Petrus Andrianto; penerbit arcan; Jakarta.
Lewar,helen; 1993; Belajar Merawat Di Bangsal Anak; alih bahasa; Enie N; editor; Ni Luh Gede Yasmin Asih; penerbit EGC; Jakarta.
Ngastiyah; 1997; Perawatan Anak Sakit; penerbit; EGC; Jakarta.
Stap Pengajar Ilmu Pengetahuan Anak; 1985; Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak; penerbit; informedika; Jakarta.
Mayers, susan Tucker; 1998; Standar Perawatan Pasien; Edisi 3; volume V; penerbit EGC; Jakarta.

Sabtu, 30 April 2011

Ini kaMi...

Pertanyaannya, apakah anda pernah menikmati buah yang anda tanam sejara sengaja???atau anda lebih banyak menikmati buah yag ditanamkan orang untuk anda atau yang anda tanam secara tidak sengaja.
Ya...smua berawal dari bentuk ketidak sengajaan. Aq, kamu dan kita sekarang bukan lagi orang yang patut diremehkan meskipun sebenarnya masih banyak yang kita benahi. Tapi paling tidak kita punya rumah dan teman untuk merasa lebih  besar dari yang seharusnya.Kamu cerewet, kamu sok jaim, kamu playboy, kamu pecinta wanita, kamu sok pintar, kamu sok tinggi, kamu sok ganteng, kamu sok cantik, kamu so terkenal, kamu jahil, kamu usil, kamu pemarah, kamu cepat ersinggungg, kamu pemalu, kamu berandal, kamu sok super hiro atau apalah...semua bisa saja bertempur untuk mempertahankan jati diri diantara banyaknya gambaran diri dari kita. Tapi kita tak pernah protes. Karna toh pada kenyataannya smua saudara tanpa membatasi dan mengganggu 'kodrat' jati dirinya yang mungkin membuat iri.
Aq, kamu dan kita kecil.lalu apa yang besar???yang besar adalah kita, bukan dengan jumlah yang besar. Tapi kuatnya kebersamaan dan semangat untuk menjadi yang terbaik. Bukan terbaik dari mereka, atau bersaing dengan mereka. tapi pengakuan tentang besarnya sebuah harga diri dan kebanggaan dari dan orang tua untuk anaknya kelak.
Trimakasih untuk orang tua dan waktu dan rezki yang telah Kau beri. semoga sempat, waktu aku, kamu dan kalian untuk mengecup pundak dan telapak tangannya, aatu bahkan mencucikan kakinya.
Ada sesuatu yang tak terlihat, tapi bisa aku, kamu dan kita lihat.  Toh ada sesuatu yang tak harus diberi nama, karna indahnya.

Jumat, 29 April 2011

Butir-butir Cinta


Terlalu sulit menafsirkan kata cinta yang sesingkat itu, hingga semuanya mempunyai keyakinan tersendiri tentang cinta. Berikut adalah butir-butir cinta yang mungkin menurut anda lebih mengena  dihati. Siapa tau bisa jadi referensi buat KTI kamu,he...
(01) Cinta tidak memegang peranan, dalam proses pendekatan, courting, dating, atau apapun yang bersifat pre-relationship. Apapun yang dirasakan atau dilakukan pada tahap tidak ada hubungannya dengan cinta, melainkan selalu bersumber pada kombinasi antara gejolak kimia tubuh (hormon), biologis (nafsu), spiritual (rasa keberhargaan), psikologis (rasa menginginkan-diinginkan), dan status sosial (validasi dari kelompok). Karena variabel-variabel tersebut terkesan rumit dan tidak indah, maka manusia menutupinya, menyamarkannya, dan menciptakan sebuah konsep generalisasi yang lebih memuaskan: hubungan romansa dimulai dari perasaan cinta.


(02) Pada esensinya, cinta tidak berbentuk perasaan, melainkan tindakan yang menjalani proses interpretasi. Dalam bahasa sehari-hari, sebelum kita merasa ‘jatuh cinta’, kita melakukan sejumlah tindakan tipikal yang kemudian diinterpretasikan (atau diberi label) sebagai sebuah ‘perasaan cinta’. Seseorang tidak mungkin merasa ‘cinta’ sebelum dia melakukan sesuatu, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Tindakan-tindakan tipikal tersebut bisa dari sesederhana sering membayangkan sang target, mencari-cari kesempatan untuk bersama, memberikan bantuan ini-itu, sampai berkorban perasaan demi sang target idaman, dsb.


(03) Kita belajar hal tersebut lewat media dan contoh-contoh lingkungan lainnya. Mereka mendiktekan sejumlah hal yang romantis, lucu, konyol, dan bodoh yang layak dilakukan ketika hendak mendekati lawan jenis yang menarik. Kita kemudian melakukan hal itu bukan karena terdorong oleh perasaan cinta. Malah justru sebaliknya, kita melakukan supaya bisa merasakan sensasi cinta dan perasaan sejenisnya. Kita memaksa otak kita untuk secara selektif berpikir, “Hei, gue udah ngerjain ini-itu. Rasanya enak, persis gambaran orang-orang. Agak keliatan bodoh dan murahan, tapi karena gue orangnya pinter, ngga mungkin dong mau ngelakuin hal-hal tersebut dengan sendirinya. Well, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah ini pasti karena gue terdorong oleh cinta. “


(04) Dengan demikian, berlaku formula yang gue sebut Law of Compounding Actions (LOCA) yang berbunyi “Intensitas perasaan cinta berbanding lurus dengan frekuensi tindakan yang diberikan.” Alias, semakin banyak seseorang melakukan tindakan-tindakan tipikal yang sering diinterpretasikan sebagai cinta, semakin bertumpuk efek perasaan cinta yang dia dapatkan terhadap sang lawan jenis. Atau dengan kata lain, setiap tindakan yang kita beri dinterpretasikan oleh otak kita sebagai sebuah investasi, sehingga sesuai dengan logika, kita mengembangkan perasaan khusus pada sesuatu kita hargai, dan terus meningkat seiring pertambahan nilai yang diberikan.


(05) Hanya saja, sedikit sekali yang menyadari Cinta sebagai akibat dari tindakan (atau LOCA), nyaris semua orang menganggapnya sebagai perasaan. Sebagai akibatnya, kita selalu berfokus pada kenikmatan perasaan itu sendiri. Menganggapnya sebagai sebuah ikatan timbul dengan sendirinya, dan akan selalu ada seperti itu tanpa perlu manajemen yang baik. Tenggelam menikmati reaksi, kita lupa memberikan aksi-aksi yang justru pada awalnya memicu reaksi kimia. Sebagaimana efek candu narkotik, kita menjadi semakin egois, pasif, dan menuntut.


(06) Karena cinta tidak lebih dari reaksi candu kimia, atau setidaknya tidak seperti yang dipahami kebanyakan orang, sebenarnya bodoh sekali jika kita berpikir, “Gue udah ngga cinta lagi.” Yang ada adalah kita berhenti melakukan apa yang dahulu biasa dilakukan dan menyalahkan keadaan, kemalasan, keengganan tersebut pada sesuatu yang diistilahkan ‘out of love’, ‘kehabisan cinta,’ cinta yang jenuh,’ dan sejenisnya. Mendasari sebuah hubungan romansa pada seks, perasaan sayang dan cinta (sebagaimana dilakukan oleh pasangan yang belum cukup dewasa) ibarat menyimpan bom yang akan meledak bila waktunya tiba.


(07) Kunci dari sebuah hubungan yang sehat dan stabil adalah LOCA, tapi itupun tidak terjadi dengan sendirinya. Kita hanya bisa bertindak sejauh mana kita mau memutuskannya. Hanya karena dua insan manusia merasa ‘super klik’, itu tidak menjamin mereka diciptakan untuk sebuah hubungan romansa. Satu-satunya yang memastikan sebuah pasangan kontinyu berminat melakukan tindakan romansa adalah adanya kekuatan keputusan dan komitmen bersama. Formula ini juga bernama LOCA, yakni Law of Committed Attachment yang berbunyi, “Resultan tindakan akan terus bermultiplikasi secara infinite sepanjang akselerasi dari variabel komitmen awalnya.”


(08) Cinta tidak lebih dari reaksi dari kedua momentum LOCA yang bekerja sama dilakukan oleh kedua belah pihak. Keduanya perlu memberikan keseriusan pada level yang sama agar hubungan itu terus berjalan dengan penuh gairah. Sekalipun pria Glossy dianjurkan menghindari ekspresi perasaan ngarep dan bergantung pada kekasihnya agar tidak membosankan (atau setidaknya berada dibawah intensitas ekspresi sang wanita kepadanya), namun dia tetap wajib memberikan sikap komitmen yang sama tingginya dengan sikap sang wanita.


(09) Keputusan menciptakan Tindakan, dan Tindakan Yang Berulang-ulang menegaskan Perasaan. Sebuah hubungan romansa yang sehat dapat ditelusuri pada alur sederhana tersebut. Seseorang yang belum bisa memutuskan apa yang dia inginkan tidak akan berakhir pada hubungan romansa yang memuaskan. Lebih jauh lagi, cinta bahkan tidak berperan apa-apa dalam sebuah hubungan romansa. Sebagaimana sudah disebutkan pada poin pertama, cinta hanyalah label simplifikasi nan indah untuk proses yang dijelaskan di atas. Hal inilah yang didekonstruksi dalam workshop/seminar HS agar peserta dapat melakukan upgrade yang diperlukan sebelum mulai memasuki kedua proses LOCA.


(10) Jika dari awal tidak terlihat menyebut-nyebut tentang masalah Selera atau Preferensi (baik fisik maupun psikologis), itu karena menurut gue hal tersebut tidak tergolong dalam faktor berpengaruh dalam percintaan. Berikan saja cukup waktu pada sepasang pria-wanita yang saling bertentangan secara selera, asalkan mereka rajin berkomunikasi terus-menerus (baca: LOCA) dengan normal dan didukung oleh sedikit faktor eksternal lainnya, perlahan-lahan akan terbentuk konektivitas romansa di antara mereka berdua. LOCA memiliki kekuatan yang lebih besar daripada selera dan idealisme manusia. Apalagi jika LOCA dan selera bisa berjalan bersama-sama!


(11) Kita biasa menganjurkan pria agar tidak menembak (menyatakan minat atau rasa suka) sewaktu mendekati lawan jenis karena hal itu biasa dikaitkan dengan sistem paradigma cinta yang kacau dan aneh seperti sudah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya. Itu sebabnya gue pribadi lebih suka mengalihkan konsep Cinta kepada Attachment (kelekatan), dan dalam Hitman System kita mengubah istilah Pacar menjadi Partner. Istilah ‘percintaan’ memiliki impreasi yang terlalu serius dan menyakitkan, menciptakan tekanan berlebihan yang seharusnya bisa dihindari. Cinta adalah sebuah rekonstruksi sosial yang lebih memberatkan, daripada mempermudah. Jika kita bisa membongkarnya menjadi realita yang lumayan dimengerti oleh otak manusia, tidakkah itu bisa dibilang membuat peradaban hidup menjadi sedikit lebih baik?


(12) Cinta bukan lagi sebuah kabut mistis yang muncul dan hilang begitu saja. Dia juga bukan benda yang dimiliki (kata benda), melainkan sebuah keputusan yang dilakukan berulang-ulang (kata kerja). Seseorang yang baru saja ‘diputuskan dan kehilangan cinta’ berarti tidak perlu lagi menangisi berbulan-bulan akan cintanya yang hilang. Dia hanya perlu berdamai dengan rasa sakitnya tersebut dalam satu dua minggu, lalu kembali pada setumpuk agenda LOCA yang disebarkan dimana-mana. Seiring waktu, perasaan cinta itu akan kembali muncul bersemi, bahkan seringkali lebih mewah dan berkualitas dibanding sebelumnya. Demikian juga pasangan yang sudah merasakan ‘jatuh cinta’ sekarang bisa mengetahui apa saja yang perlu dipelihara agar hubungan romansa mereka tidak menguap hilang begitu saja


Kutipan : Hitmansystem.com

Askep Cerebro Vascular Disease

CEREBRO VASCULAR DISEASE
DAN GANGGUAN KESADARAN

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Stroke/Gangguan Pembuluh Darah Otak (GPDO)/Cerebro Vascular Disease (CVD)/Cerebro Vascular Accident (CVA) merupakan suatu kondisi kehilangan fungsi otak secara mendadak yang diakibatkan oleh gangguan suplai darah ke bagian otak (Brunner & Suddarth, 2000: 94) atau merupakan suatu kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak (Doengoes, 2000: 290).
Penyebab dari stroke adalah 1) trombosis, 2) embolisme serebral (3/4 kasus stroke), dan 3) perdarahan baik intra serebral maupunn subarachnoid (1/4 kasus stroke) (Hudak & Gallo, 1996: 254).
Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi awitan tiba-tiba defisit neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri (aneurisma) (Lynda Juall Carpenito, 1995).
Menurut WHO stroke adalah adanya defisit neurologis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

2. Anatomi Fisiologi
a. Otak
Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)
Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.
Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.
Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)

b. Sirkulasi darah otak
Otak menerima 17% curah jantung dan menggunakan 20% konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.
Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris.
Ini memperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)
Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem: kelompok vena interna yang mengumpulkan darah ke vena galen dan sinus rektus, dan kelompok vena eksterna yang terletak di permukaan hemisfer otak yang mencurahkan darah ke sinus sagitalis superior dan sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya ke vena-vena jugularis, dicurahkan menuju ke jantung. (Harsono, 2000)
Sirkulasi Willisi adalah area dimana percabangan arteri basilar dan karotis internal bersatu. Sirkulus Willisi terdiri atas dua arteri serebral, arteri komunikans anterior, kedua arteri serebral posterior dan kedua arteri komunikans anterior. Jaringan sirkulasi ini memungkinkan darah bersirkulasi dari satu hemisfer ke hemisfer yang lain dan dari bagain anterior ke posterior otak. Ini merupakan sistem yang memungkinkan sirkulasi kolateral jika satu pembuluh mengalami penyumbatan. (Hudak & Gallo, 1996: 254)

3. Faktor Resiko Stroke
a. Hypertensi, faktor resiko utama
b. Penyakit kardiovaskuler
c. Kadar hematokrit tinggi
d. DM (peningkatan anterogenesis)
e. Pemakaian kontrasepsi oral
f. Penurunan tekanan darah berlebihan dalam jangka panjang
g. Obesitas, perokok, alkoholisme
h. Kadar esterogen yang tinggi
i. Usia > 35 tahun
j. Penyalahgunaan obat
k. Gangguan aliran darah otak sepintas
l. Hyperkolesterolemia
m. Infeksi
n. Kelainan pembuluh darahh otak (karena genetik, infeksi dan ruda paksa)
o. Lansia
p. Penyakit paru menahun (asma bronkhial)
q. Asam urat
(Brunner & Suddarth, 2000: 94-95, Harsono, 1996:60-65)

4. Klasifikasi
a. Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu:
a) Stroke Haemorhagi
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.
Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (Djoenaidi Widjaja et. al, 1994)
Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
(a) Perdarahan Intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hypertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hypertensi sering dijumpai di daerah putamen, talamus, pons dan serebelum. (Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan Perawat Bedah Syaraf Indonesia, Siti Rohani, 2000, Juwono, 1993: 19).

(b) Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak (Juwono, 1993: 19). Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang sub arachnoid menyebabkan TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemi sensorik, afasia, dll). (Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan Perawat Bedah Syaraf Indonesia, Siti Rohani, 2000).
Pecahnya arteri dan keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan tarjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di ruang subarakhnoid. Vasispasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia danlain-lain).
Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak.
Tabel 1. Perbedaan perdarahan Intra Serebral (PIS) dan Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)

Gejala
PIS
PSA
Timbulnya
Nyeri Kepala
Kesadaran
Kejang
Tanda rangsangan Meningeal.
Hemiparese
Gangguan saraf otak
Dalam 1 jam
Hebat
Menurun
Umum
+/-

++
+
1-2 menit
Sangat hebat
Menurun sementara
Sering fokal
+++

+/-
+++
Disadur dari Laporan Praktik Klinik Keperawatan Medical Bedah di Ruang Syaraf
RSUD Dr. Soetomo Surabaya


b) Stroke Non Haemorhagic (CVA Infark)
Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umummnya baik.


Tabel 2. Perbedaan antara CVA infark dan CVA Bleeding sebagai berikut:

Gejala (anamnesa)
Infark
Perdarahan
Permulaan (awitan)
Waktu (saat “serangan”)
Peringatan
Nyeri Kepala
Kejang
Muntah
Kesadaran menurun
Sub akut/kurang mendadak
Bangun pagi/istirahat
+ 50% TIA
+/-
-
-
Kadang sedikit
Sangat akut/mendadak
Sedang aktifitas
-
+++
+
+
+++

Koma/kesadaran menurun
Kaku kuduk
Kernig
pupil edema
Perdarahan Retina
Bradikardia
Penyakit lain




Pemeriksaan:
Darah pada LP
X foto Skedel

Angiografi


CT Scan


Opthalmoscope

Lumbal pungsi
• Tekanan
• Warna
• Eritrosit
Arteriografi
EEG


+/-
-
-
-
-
hari ke-4
Tanda adanya aterosklerosis di retina, koroner, perifer. Emboli pada ke-lainan katub, fibrilasi, bising karotis

-
+

Oklusi, stenosis


Densitas berkurang
(lesi hypodensi)

Crossing phenomena
Silver wire art

Normal
Jernih
< 250/mm3
oklusi
di tengah


+++
++
+
+
+
sejak awal
Hampir selalu hypertensi, aterosklerosis, HHD




+
Kemungkinan pergeseran glandula pineal
Aneurisma. AVM. massa intra hemisfer/ vaso-spasme.
Massa intrakranial densitas bertambah.
(lesi hyperdensi)
Perdarahan retina atau corpus vitreum

Meningkat
Merah
>1000/mm3
ada shift
shift midline echo
Disadur dari Makalah Simposium Sehari “Peran Perawat dalam Kegawat Daruratan” dalam Rangka Dirgahayu PPNI XIX di Tirta Graha Lantai V Jl. Myjen Prof. Dr. Moestopo No. 2 Surabaya (Gedung PDAM Kotamadya Surabaya yang diselenggarakan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia Dewan Pimpinan Daerah Tingkat II Kotamadya Suarabaya.


b. Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya:
a) TIA (Trans Iskemik Attack):
Gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b) Stroke involusi:
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.
c) Stroke komplit:
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang.

5. Manifestasi Klinis
Menurut Hudak dan Gallo dalam bukunya Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik (1996: 258-260), terdapat manifestasi akibat stroke, yaitu:
a. Defisit Motorik
Y Hemiparese, hemiplegia
Y Distria (kerusakan otot-otot bicara)
Y Disfagia (kerusakn otot-otot menelan)

b. Defisit Sensori
Y Defisit visual (umum karena jaras visual terpotong sebagian besar pada hemisfer serebri)
• Hemianopsia homonimosa (kehilangan pandangan pada setengah bidang pandang pada sisi yang sama)
• Diplopia (penglihatan ganda)
• Penurunan ketajaman penglihatan
Y Tidak memberikan atau hilangnya respon terhadap sensasi superfisial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas dan dingin)
Y Tidak memberikan atau hilangnya respon terhadap proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh)

c. Defisit Perseptual (Gangguan dalam merasakan dengan tepat dan menginterpretasi diri dan/atau lingkungan)
Y Gangguan skem/maksud tubuh (amnesia atau menyangkal terhadap ekstremitas yang mengalami paralise; kelainan unilateral)
Y Disorientasi (waktu, tempat, orang)
Y Apraksia (kehilangan kemampuan untuk menggunakan obyek-obyek dengan tepat)
Y Agnosia (ketidakmampuan untuk mengidentifikasi lingkungan melalui indera)
Y Kelainan dalam menemukan letak obyek dalam ruang, memperkirakan ukurannya dan menilai jauhnya
Y Kerusakan memori untuk mengingat letak spasial obyek atau tempat
Y Disorientasi kanan kiri

d. Defisit Bahasa/Komunikasi
Y Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi pola-pola bicara yang dapat difahami) - dapat berbicara dengan menggunakan respons satu kata
Y Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata yang diucapkan - mampu untuk berbicara, tetapi menggunakan kata-kata dengan tidak tepat dan tidak sadar tentang kesalahan ini)
Y Afasia global (kombinasi afasia ekspresif dan reseptif) – tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat
Y Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang dituliskan)
Y Agrafasia (ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide-ide dalam tulisan)

e. Defisit Intelektual
Y Kehilangan memori
Y Rentang perhatian singkat
Y Peningkatan distraktibilitas (mudah buyar)
Y Penilaian buruk
Y Ketidakmampuan untuk mentransfer pembelajaran dari satu situasi ke situasi yang lain
Y Ketidakmampuan untuk menghitung, memberi alasan atau berpikir secara abstrak

f. Disfungsi Aktivitas Mental dan Psikologis
Y Labilitas emosional (menunjukkan reaksi dengan mudah atau tidak tepat)
Y Kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial
Y Penurunan toleransi terhadap stres
Y Ketakutan, permusuhan, frustasi, marah
Y Kekacauan mental dan keputusasaan
Y Menarik diri, isolasi
Y Depresi

g. Gangguan Eliminasi (Kandung kemih dan usus)
Y Lesi unilateral karena stroke mengakibatkans sensasi dan kontrol partial kandung kemin, sehingga klien sering mengalami berkemih, dorongan dan inkontinensia urine.
Y Jika lesi stroke ada pada batang otak, maka akan terjadi kerusakan lateral yang mengakibatkan neuron motorik bagian atas kandung kemih dengan kehilangan semua kontrol miksi
Y Kemungkinan untuk memulihkan fungsi normal kandung kemih sangat baik
Y Kerusakan fungsi usus akibat dari penurunan tingkat kesadaran, dehidrasi dan imobilitas
Y Konstipasi dann pengerasan feses

h. Gangguan Kesadaran

6. Patofisiologi Infark Otak (Proses yang terjadi sesudah obstruksi vena dan arteri)
Aliran darah
Obstruksi vena
Obstruksi arteri
Dilatasi
¬ tek.kapiler & reduksi aliran drh
Stagnasi darah
Edema interstitial
Adesi & penimbunan trombosit
Diapedesis
Infark hemoragik
Gel fibrin
Jendalan darah
¯ tek.pulsasi & aliran darah
Hilangnya aliran pulsatif
Vasoparalisis
Iskemia
Endotelium
Edema seluler
Pelepasan prostasiklin
Diapedesis & penurunan resistensi sawar darah otak
Edema interstitial
Aliran kolateral
Otak
Edema astrositik
Edema neuronal
Akumulasi lipid, aktivitas lisosomal autofagik, inclusion nuclear & sitoplasmik, vakuolasi, modifikasi dalam mikrotubuli, inhibisi divisi mikotik
Mati

Patofisiologi CVA karena Emboli/trombus dan perdarahan
Pembuluh darah
Trombus/Embolus karena plak ateromatosa, fragmen, lemak, udara, bekuan darah
Oklusi
Perfusi jaringan cerebral ¯
Iskemia
Hypoxia
Metabolisme anaerob
Asam laktat ¬
Aktifitas elektrolit terganggu
Na & K pump gagal
Na & K influk
Retensi cairan
ODEMA SEREBRAL
Nekrotik jaringan otak (mikrositik neuron)
Infark
Gg.kesadaran, kejang fokal, hemiplegia, defek medan penglihatan, afasia
Hypertensi/aterosklerosis
PD lunak
Mendesak arteriol
Herniasi/pecahnya tunika intima
Aneurisma
PD pecah
Perdarahan
Oksipital
Ssefalgia mata ipsilateral, hemianopia
Temporalis kiri
Nyeri telinga homolateral, disfasia, hemianopia, kuadranopia
Parietalis
Nyeri homolateral, defisit sensorik kontralateral, hemipares ringan
Frontal
Hemiparese kontralateral, sefalgia bifrontal
Gg. rasa nyaman (nyeri), Gg. Istirahat, intoleransi aktivitas, defisit perawatan diri (sindroma), Gg. Komunikasi/bicara, ketergantungan, Gg.persepsi sensori, Gg. Perfusi jaringan, Gg. Mobilitas fisik, Gg. Konsep diri, Gg. Menelan, integritas kulit, Gg. Nutrisi, resiko injury, dll

Thalamus
Perdarahan
Subthalamus & mesensefalon dorsal
• Pupil mengecil
• Reaksi terhadap cahaya lambat
Hemisfer dominan
• Afasia
• anomia berat dg pemahaman & repetisi lumayan

Hemisfer non dominan
• Anosognosia

Kapsula interna
• Hemiparese
• hemiplegia kontralateral

substansia alba
hemianopia
Subtalamik diensefalon
Bola mata melirik ke bawah-dalam dg paralisis gerakan ke atas & posisi kedua bola mata melihat ujung hidung

Pons
• Nyeri kepala
• Rigiditas deserebri
• Hemiplegia kontralateral
• Paralisis fasia homolateral
• Defiasi mata

Putamen
• Hemiplegia
• Sefalgia
• Muntah
• Kedasaran ¯
• Defek hemisensorik
• Gg.Grk bola mata
Koma mendadak
Mati
Mesensefalon
• Paralisis okulomorius ipsilateral
• Koma
• TIK ¬
Medula oblongata
• Gg. Jantung
• Gg. Pernafasan
• Refleks telan ¯
• Muntah
• Hypersalivasi
• Gg. Sistem syaraf simpatis
Hemisfer
Frontalis
Gg. motorik
Parietalis
Gg. proses & integrasi informasi sensorik
Temporalis
Gg. pendengaran
Oksipitalis
Gg. penglihatan & sensori warna

Serebelum
• Gg. Okulomotor
• Gg. Keseimbangan
• Nistagmus
• Muntah terus-menerus
• Singultus
TIK ¬
gg. komunikasi verbal, integritas kulit, mobilitas fisik, perawatan diri, intoleransi aktivitas, konsep diri, ketergan-tungan, dll
• gg. rasa nyaman (nyeri)
• gg. Istirahat/tidur
• kejang
• resiko injury
• gg. Perfusi jaringan
• kebutuhan oksigen
• integritas kulit
• mobilitas fisik
• perawatan diri
• intoleransi aktifitas
• gg. Sensori persepsi
Gg. sensori penglihatan
TIK ¬

• gg. perfusi jaringan
• gg. Sirkulasi
• bersihan jalan nafas tidak efektif
• resti aspirasi
• gg. Eliminasi uri & alvi
• gg. Pola nafas tak efektif
• gg. Nutrisi kurang dari kebutuhan
• rasa nyaman
• kebersihan mulut, dll
gg. perfusi jaringan, defisit volume cairan, pola nafas tak efektif, resiko perubahan suhu tubuh, resiko infeksi, resiko cedera, resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan, bersihan jalan nafas tak efektif

GANGGUAN KESADARAN

A. PENGERTIAN KESADARAN
Kesadaran merupakan kemampuan individu mengadakan hubungan dengan lingkungan serta dirinya sendiri (melalui panca inderanya) dan mengadakan pembatasan (limitasi) terhadap lingkungan dan dirinya sendiri (melalui perhatian). Bila kesadaran baik, maka akan terjadi orientasi (waktu, tempat dan orang), pengertian yang baik serta pemakaian informasi yang masuk secara efektif (melalui ingatan dan pertimbangan). (Maramis, 1994: 101).
Kualitas kesadaran klien merupakan parameter paling mendasar dan paling penting yang harus ditentukan dan dikaji untuk menentukan status kerusakan pada sistem persyarafan khususnya pada kasus stroke. Tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persyarafan (Hudak & Gallo, 1996: 160)

B. JENIS KESADARAN
a. Isi Kesadaran
a) Kognitif
b) Afektif
b. Derajat/tingkat kesadaran (Aurosal) (Juwono, 1993: 1)

C. BENTUK KESADARAN
Kesadaran Menurun
Kesadaran menurun adalah keadaan dengan kemampuan persepsi, perhatian dan pemikiran yang berkurang secara keseluruhan (secara kuantitatif), kemudian muncullah amnesia sebagian atau total.
Beberapa tingkat dalam menurunnya kesadaran yaitu:
a) Apati
Mulai mengantuk, acuh-tak acuh terhadap stimulus, untuk menarik perhatiannya diperlukan stimulus yang sedikit lebih keras
b) Somnolen
Sudah mengantuk, untuk menarik perhatiannya dibutuhkan stimulus yang lebih keras
c) Sopor
Ingatan, orientasi dan pertimbangan sudah hilang. Hanya berespon dengan rangsangan yang keras
d) Subkoma dan koma
Tidak ada respon terhadap stimulus yang kuat/keras, pupil melebar, reflek muntah hilang. (Maramis, 1996: 101)

Kesadaran Meninggi
Kesadaran meninggi adalah keadaan dengan respon yang meninggi terhadap stimulus, biasanya disebabkan pengaruh berbagai zat yang menstimulus otak (psikosimultan) atau oleh faktor psikologi. (Maramis, 1996: 102)
Selain kesadaran menurun, terdapat beberapa sistem yang digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam keawasan dan keterjagaan, istilah-istilah tersebut antara lain: (Hudak & Gallo, 1996: 160)
a) Terjaga: normal
b) Sadar
Dapat tidur lebih dari biasanya atau sedikit bingung saat pertama kali terjaga, tetapi berorientasi sempurna ketika bangun.
Dapat berorientasi dan berkomunikasi
c) Letargi/somnolen
Mengantuk tetapi dapat mengikuti perintah sederhana ketika dirangsang
d) Stupor
Sangat sulit dibangunkan, tidak konsisten dapat mengikuti perintah sederhana atau berbicara satu kata atau frase pendek. Menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri. Pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Non verbal dengan menganggukkan kepala.
e) Semikomatosa
Gerak bertujuan ketika dirangsang; tidak mengikuti perintah atau berbicara koheren
f) Koma
Dapat berespon dengan postur secara refleks ketiak distimulasi atau dpat tidak berespon pada setiap stimulus.
Berdasarkan kwalitas kesadaran, yaitu pengkajian mutu mental seseorang terhadap dunia luar: (Catatan Ruang Tropik Wanita, 1998)
a) Composmentis
Bereaksi secara adekuat
b) Abstensia/kesadaran tumpul/drowsky
Tidak tidur dan tidak megitu waspada, perhatian terhadap sekeliling berkurang, cenderung mengantuk
c) Bingung/confused
Disorientasi waktu, tempat dan orang
d) Delirium
Mental dan motorik kacau, ada halusinasi dan bergerak sesuai dengan kekacauan pikirannya
e) Apatis
Tidak tidur, tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa

D. GANGGUAN KESADARAN
Gangguan Isi Kesadaran
a) Gangguan Kognitif
Y Afasia
Y Gangguan persepsi
Y Gangguan berfikir
Y Gangguan daya ingat
b) Gangguan Afektif
Y Apatis
Y Agitasi

Gangguan Kesadaran Akut
a) Kesadaran Berkabut (clouding of Consciousness)
Y Penurunan kewaspadaan (awareness)
Y Penurunan keadaan bangun
Y Hypereksitabilitas
Y Iritabilitas
Y Mengantuk diselingi agitasi
Y Gagguan perhatian
Y Kebingungan
Y Gangguan persepsi sensori (terutama persepsi visual)
Y Tidak selalu ada disorientasi
Y Akut atau subacut confusional state bila berat
Y Salah interpretasi
Y Gangguan ingatan (kesulitan mengulang angka-angka ke belakang lebih dari 4 atau 5 angka).
b) Delirium
Y Disorientasi
Y Takut
Y Iriabilitas
Y Gangguan persepsi sensori dan halusinasi visual
Y Tidak mengenal diri sendiri dan lingkungannya
Y Penyakiy yang menyebabkan delirium
c) Optundation
Y Penumpulan mental (torpidity)
Y Penurunan kewaspadaan yang cukup berat
Y Penurunan minat
Y Lambatnya jawaban terhadap rangsangan
Y Sering mengantuk dan banyak tidur
d) Stupor
e) Koma

Gangguan Kesadaran Sub akut atau Kronik
a) Demensia
b) Hypersomnia
c) Keadaan vegetatif (termasuk coma vigil, spsllic syndrome, mati serebral, mati neokortikal, dementia total)
d) Mutisme akinetik
e) Apallic syndrome: fungsi neokorteks tidak ada tapi batang otak masih ada
f) Locked-in syndrome:
Y Tidak ada penurunan kesadaran
Y Kelumpuhan keempat ekstremitas dan syaraf otak bawah
Y Pergerakan bola mata ke atas dan berkedip masih ada
g) Mati otak
Fungsi korteks, subkortikal dan batang otak secara permanen sudah tidak ada. (Juwono, 1993: 1-4)

E. PROSES PATOLOGIS PENYEBAB GANGGUAN KESADARAN
Keadaan yang secara luas dan langsung menekan fungsi hemisfer serebri (biasanya pada waktu bersamaan juga mengenai struktur batang otak)
Kelainan yang menekan atau merusak substansia grisea (diencepalon, mesenchepalon dan pons atas).

F. CARA PENGUKURAN TINGKAT KESADARAN
Glasgow Coma Scale (GCS)
a) Respon Membuka Mata
Spontan 4
Terhadap bicara 3
Terhadap nyeri 2
Tidak ada respon 1
b) Respon Verbal
Terorientasi 5
Percakapan yang membingungkan 4
Penggunaan kata-kata yang tidak sesuai 3
Suara mengguman 2
Tidak ada respon 1
c) Respon Motorik
Mengikuti perintah 6
Menunjuk tempat rangsangan 5
Menghindar dari stimulasi 4
Fleksi abnormal (dekortikasi) 3
Ekstensi abnormal (deserebrasi) 2
Tidak ada respon 1
Penilaian:
Nilai 3 : kesadaran terburuk
Nilai 3-5 : koma yang dalam
Nilai 6-10 : gangguan kesadaran intermediate
Nilai 11-14 : kesadaran lebih baik
Nilai 15 : terbaik

Penggambaran stimulus dan respon klien
a) Panggil pasien dengan namanya
b) Panggil namanya dengan keras
c) Kombinasikan memanggil nama dengan sentuhan ringan
d) Kombinasikan memanggil nama dengan sentuhan kasar (guncangan dan kejutan)
e) Timbulkan nyeri

Skala Tingkat (Reaksi – Stimuli)
1
Terjaga; tidak menunda respon
2
Mengantuk tetapi berespon terhadap stimulus lembut. Bingung tentang nama, tempat dan waktu
3
Sangat mengantuk, berespon terhadap rangsangan yang kuat dengan orientasi gerakan mata, memenuhi perintah atau menunjuk dan secara aktif berupaya untuk menyingkirkan stimulus
4
Tidak sadar. Dapat menunjuk tetapi tidak berhasil menyingkirkan stimulus
5
Tidak sadar. Gerakan menghindar pada setiap stimulus
6
Tidak sadar. Gerakan fleksi yang umum terhadap nyeri
7
Tidak sadar. Gerakan ekstensi yang umum terhadap nyeri
8
Tidak sadar. Tidak berespon pada stimulasi nyeri

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE

a. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)
a) Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien. (Marilynn E. Doenges et al, 1998)
(a) Data demografi
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.
(b) Keluhan utama
Didapatkan keluhan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)
(c) Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000) Sedangkan stroke infark tidak terlalu mendadak, saat istirahat atau bangun pagi, kadang nyeri copula, tidak kejang dan tidak muntah, kesadaran masih baik.
(d) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius, 1995)
(e) Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro Susilo, 2000)
(f) Riwayat psikososial
Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.(Harsono, 1996)
(g) Pola-pola fungsi kesehatan
Y Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.
Y Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan menelan, obesitas (Doengoes, 2000: 291)
Y Pola eliminasi
Gejala menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria. Adanya distensi abdomen (distesi bladder berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.(Doengoes, 1998 dan Doengoes, 2000: 290)
Y Pola aktivitas dan latihan
Gejala menunjukkan danya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah.
Tanda yang muncul adalah gangguan tonus otot (flaksid, spastis), paralitik (hemiplegia) dan terjadi kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran (Doengoes, 1998, 2000: 290)
Y Pola tidur dan istirahat
Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot
Y Pola hubungan dan peran
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
Y Pola persepsi dan konsep diri
Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
Y Pola sensori dan kognitif
Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.
Y Pola reproduksi seksual
Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.
Y Pola penanggulangan stress
Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
Y Integritas ego
Terdapat gejala perasaan tak berdaya, perasaan putus asa dengan tanda emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan gembira, kesulian mengekspresikan diri (Doengoes, 2000: 290)
Y Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. (Marilynn E. Doenges, 2000)

(h) Pemeriksaan fisik
Y Keadaan umum
• Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran
• Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara
• Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi
Y Pemeriksaan integumen
• Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu
• Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
• Rambut : umumnya tidak ada kelainan
Y Pemeriksaan kepala dan leher
• Kepala : bentuk normocephalik
• Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
• Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)
Y Pemeriksaan dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan, adanya hambatan jalan nafas. Merokok merupakan faktor resiko.
Y Pemeriksaan abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
Y Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine
Y Pemeriksaan ekstremitas
Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

Y Pemeriksaan neurologi
• Pemeriksaan nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central. Penglihatan menurun, diplopia, gangguan rasa pengecapan dan penciuman, paralisis atau parese wajah.
• Pemeriksaan motorik: Hampir selalu terjadi kelumpuhan/ kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kelemahan, kesemutan, kebas, genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara kontralateral, apraksia
• Pemeriksaan sensorik: Dapat terjadi hemihipestesi, hilangnya rangsang sensorik kontralteral.
• Pemeriksaan refleks
• Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.
• Sinkop/pusing, sakitkepala, gangguan status mental/tingkat kesadaran, gangguan fungsi kognitif seperti penurunan memori, pemecahan masalah, afasia, kekakuan nukhal, kejang, dll (Jusuf Misbach, 1999, Doengoes, 2000: 291)
2) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan radiologi
(1) CT scan: didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993), edema, hematoma, iskemia dan infark (Doengoes, 2000: 292)
(2) MRI: untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000: 292)
(3) Angiografi serebral: untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998) atau membantu menenukan penyebab stroke yang lebih spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau ruptur (Doengoes, 2000: 292)
(4) Pemeriksaan foto thorax: dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita
stroke. (Jusuf Misbach, 1999), menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari massa yang meluas (Doengoes, 2000: 292)
b) Pemeriksaan laboratorium
(1) Pungsi lumbal: pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998). Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA. Sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandungdarah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranial. Kadar protein total meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan proses inflamasi (Doengoes, 2000: 292)
(2) Pemeriksaan darah rutin
(3) Pemeriksaan kimia darah: pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)
(4) Pemeriksaan darah lengkap: unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)

b. Prioritas Keperawatan
1. Meningkatkan perfusi dan oksigenasi serebral yang adekuat
2. Mencegah/meminimalkan komplikasi dan ketidakmampuan yang bersifat permanen
3. Membantu pasien untuk menemukan kemandiriannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari
4. Memberikan dukungan terhadap proses koping dan mengintegrasikan perubaahan dalam konsep diri pasien
5. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosisnya dan kebutuhan tindakan/rehabilitasi

c. Tujuan Pemulangan
1. Fungsi serebral membaik/meningkat, penurunan fungsi neurologis dapat diminimalkan/dapat didtabilkan
2. Komplikasi dapat dicegah dan diminimalkan
3. Kebutuhan pasien sehari-hari dapat dipenuhi oleh pasien sendiri atau dengan bantuan yang minimal dari orang lain
4. Mampu melakukan koping dengan cara yang positif, perencanaan untuk masa depan
5. Proses dan prognosis penyakit dan pengobatannya dapat dipahami

d. Diagnosa keperawatan
1) Perubahan perfusi jaringan otak (serebral) berhubungan dengan perdarahan intracerebral, edema serebral, gangguan oklusi (Marilynn E. Doenges, 2000: 293)
2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, parastesia, hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995, doengoes, 2000: 295)
3) Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori, penurunan penglihatan (Marilynn E. Doenges, 2000)
4) Gangguan/kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak, kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial, kelemahan umum (Donna D. Ignativicius, 1995, Doengoes, 2000: 298)
5) Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat (Donna D. Ignativicius, 1995)
6) Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan ( Barbara Engram, 1998)
7) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi, stres psikologis (Doengoes, 2000: 300)
8) Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi, kerusakan neuromuskuler, kehilangan kontrol/koordinasi otot, penurunan kekuatan/ketahanan, kerusakan perseptual, nyeri, depresi (Donna D. Ignativicius, 1995, Doengoes, 2000: 301)
9) Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram, 1998)
10) Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.(Lynda Juall Carpenito, 1998)
11) Gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi (Donna D. Ignatavicius, 1995)
12) Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, persepsi kognitif (Doengoes, 2000: 303)

e. Perencanaan
Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah:
Perubahan perfusi jaringan otak (serebral) berhubungan dengan perdarahan intracerebral, edema serebral, gangguan oklusi dibuktikan oleh perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan respon motorik/sensori, gelisah, defisit sensori, bahasa, intelektual dan emosi, perubahan VS
Tujuan: Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal
Kriteria hasil:
• Klien tidak gelisah, mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik, fungsi kognitif dan motorik/sensori
• Tidak ada tanda TIK meningkat
• Menunjukkan tidak ada kelanjutan deteriorasi/kekambuhan defisit
• Tanda-tanda vital stabil (nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali permenit)
Rencana tindakan
a) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab gangguan perfusi jaringan otak dan akibatnya
b) Anjurkan kepada klien untuk bed rest total
c) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan intrakranial tiap dua jam
d) Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung (beri bantal tipis)
e) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan
f) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung
g) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor
Rasional
a) Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan
b) Untuk mencegah perdarahan ulang
c) Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat
d) Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral
e) Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang
f) Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya
g) Memperbaiki sel yang masih viabel

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, parastesia, hemiparese/hemiplagia
Tujuan :
Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya
Kriteria hasil
• Tidak terjadi kontraktur sendi (mempertahankan posisi optimal dan mempertahankan fungsi secara optimal)
• Bertambahnya kekuatan otot
• Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
• Mempertahankan integritas kulit
Rencana tindakan
a) Ubah posisi klien tiap 2 jam
b) Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit
c) Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit
d) Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya
e) Tinggikan kepala dan tangan
f) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
Rasional
a) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan
b) Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan
c) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan

Gangguan persepsi sensori: perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori
Tujuan: Meningkatnya persepsi sensorik: perabaan secara optimal.
Kriteria hasil:
• Klien dapat mempertahankan tingakat kesadaran dan fungsi persepsi
• Klien mengakui perubahan dalam kemampuan untuk meraba dan merasa
• Klien dapat menunjukkan perilaku untuk mengkompensasi terhadap perubahan sensori
Rencana tindakan
a) Tentukan kondisi patologis klien
b) Kaji kesadaran sensori, seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul, posisi bagian tubuh/otot, rasa persendian
c) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan, seperti memberikan klien suatu benda untuk menyentuh, meraba. Biarkan klien menyentuh dinding atau batas-batas lainnya.
d) Lindungi klien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lindungan yang berbahaya. Anjurkan pada klien dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan yang normal
e) Anjurkan klien untuk mengamati kaki dan tangannya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh yang sakit. Buatlah klien sadar akan semua bagian tubuh yang terabaikan seperti stimulasi sensorik pada daerah yang sakit, latihan yang membawa area yang sakit melewati garis tengah, ingatkan individu untuk merawata sisi yang sakit.
f) Hilangkan kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebihan.
g) Lakukan validasi terhadap persepsi klien
Rasional
a) Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan
b) Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan perasaan kinetik berpengaruh terhadap keseimbangan/posisi dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi, meningkatkan resiko terjadinya trauma.
c) Melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan intepretasi diri. Membantu klien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan dari daerah yang terpengaruh.
d) Meningkatkan keamanan klien dan menurunkan resiko terjadinya trauma.
e) Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalan mengintegrasikan sisi yang sakit.
f) Menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan/kebingungan yang berhubungan dengan sensori berlebih.
g) Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi stimulus.

Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi
Tujuan: Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil
• Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien
• Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan
Rencana tindakan
a) Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri
b) Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh
c) Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
d) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya
e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi
Rasional
a) Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
b) Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus
c) Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan
d) Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu
e) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan
Tujuan: Tidak terjadi gangguan nutrisi
Kriteria hasil
• Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan
• Hb dan albumin dalam batas normal


Rencana tindakan
a) Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk
b) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan sesudah makan
c) Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan
d) Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu
e) Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang
f) Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air
g) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan
h) Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan
i) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui selang
Rasional
a) Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien
b) Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi
c) Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler
d) Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan
e) Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar
f) Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi
g) Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak
h) Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan
i) Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut

Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
Tujuan: Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit
Kriteria hasil
• Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka
• Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
• Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka
Rencana tindakan
a) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin
b) Rubah posisi tiap 2 jam
c) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol
d) Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi
e) Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi
f) Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit
Rasional
a) Meningkatkan aliran darah kesemua daerah
b) Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah
c) Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol
d) Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler
e) Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan
f) Mempertahankan keutuhan kulit


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Wendra, 1999, Petunjuk Praktis Rehabilitasi Penderita Stroke, Bagian Neurologi FKUI /RSCM, UCB Pharma Indonesia, Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta.

Depkes RI, 1996, Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Diknakes, Jakarta.

Doenges, M.E., Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, EGC, Jakarta.

Harsono, 1996, Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Harsono, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hudak C.M., Gallo B.M., 1996, Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI, Volume II, EGC, Jakarta.

Ignatavicius D.D., Bayne M.V., 1991, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, An HBJ International Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Ignatavicius D.D., Workman M.L., Mishler M.A., 1995, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, 2nd edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Islam, Mohammad Saiful, 1998, Stroke: Diagnosis Dan Penatalaksanaannya, Lab/SMF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Juwono, T., 1993, Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek, EGC, Jakarta.

Lismidar, 1990, Proses Keperawatan, Universitas Indonesia, Jakarta.

Mardjono M., Sidharta P., 1981, Neurologi Klinis Dasar, PT Dian Rakyat, Jakarta.

Price S.A., Wilson L.M., 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Buku II, EGC, Jakarta.

Rochani, Siti, 2000, Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan Perawat Bedah Saraf Indonesia, Surabaya.

Satyanegara, 1998, Ilmu Bedah Saraf, Edisi Ketiga, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Susilo, Hendro, 2000, Simposium Stroke, Patofisiologi Dan Penanganan Stroke, Suatu Pendekatan Baru Millenium III, Bangkalan.

Widjaja, Linardi, 1993, Patofisiologi dan Penatalaksanaan Stroke, Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More